April 22 2002

Standard

Bumi, hari ini adalah harimu dimana semua orang menebarkan puja dan simpati padamu. Berbagai seni telah dipersembahakan untukmu. Meski bagi yang munafik pun telah memujimu di depan banyak orang.

Tapi taukan Kau? Telah beberapa minggu ini ada tanda-tanda bagiku akan datangnya iblis di mata serta setan di hatiku. Dan beberapa hari inilah dimana puncak gunung memanas mendidihkan lahar diperutmu Bumi. Iblis dan setan itu menyamar pada kerabunan hitam mataku. Pandanganku kini diselubungi benci di setiap makhluk di depanku. Benci karna mereka lupa akan hidupnya seeorang manusia. Manusia yang penuh harap akan perhatian dan kasih sayang saudara-saudaranya.

Benci itu menusukkan bambu runcing di bawah dagu, menahan mataku melihat iblis dan setan bersenda gurau da nmembiusku untuk tetap menengadah ke atas, hingga tak kupandang sekelilingku yang ternyata membalikkan rasa benci yang kupunya menikam lubuk perasaanku.

Kini aku jauh bersemayam di pulau tak bertuan, tiada orang lain memberikan aku perlindungan dari panas pemburu, atau yang membawakanku sampan dari pulau ramai yang lama kuimpikan, lama sekali.Kini benci mambalutku, menutup aliran darah sehingga membuat panas otakku. Ia merangkulku dengan santai, memeluk dalam hangatnya kesendirian.“wahai manusia yang lemah, kau sadar tapi tak sadar akan sikap statismu. Alihkan semua dendam dan benci menjadi perhatian dan senyum bagi semua agar impian dapat membawamu melangkah ke pintu ilusi, hingga saat matahari memanggil pagi, kau akan benar-benar berada di tengah orang-orang yang kau harapkan.”

“tetapi, Hai kata Hati..manusia ini tidak aka nmudah mencari jati diri karna sahabat-sahabatnya pun tidak berada di sisinya, membimbingnya pulang dari perjalanan di satu langkah saja yang terasa baginya amboi melelahkan”. 

Perdebatan tak berkesudahan, karna buktinya aku masih disini. Mengulang reka-reka di hati mereka, gerakan apakah yang ada di pikiranku. Tak ada. Selain sayu hati dan gugurnya kelopak bunga. Memang sudah sejak lama akan begitu. Lelah mengartikan terbuangku dari kelompok saudara, lelah bertanya pada sesiapa mengapa aku sendiri, lesu untuk menuntut sahabat akan arti pentingnya mereka di sampingku.Dari sini, telah kulihat ramalan hidupku nantinya, akan tetap seperti ini…Ho ho ho…. betapa konyolnya pikiranku.

Menjerumuskan diri sendiri ke liang yang tak sama sekali riang. Terkubur dalam sesal dan menyalahkan diri atas sikap terkutuk yang ternyata aku sendiri tidak menyukainya.            ‘bawalah aku pulang’ Sebuah epigram yang mewakili kerinduanku pada mereka. Kesedihanku tepuruk dalam air mata, luluh oleh penyesalan, air mata sendiri menelanku ke aliran tak berujung dalam sendiri. Ya……. Dimana akan kutemukan jawaban pertanyaanku ini? Kapan datangnya kiamat agar mengakhiri penyiksaanku ini? Atau ini adalah karma?Tidak. Aku tidak pernah menyakiti orang lain,.. dalam sepengetahuanku. Lalu apa arti semua kesedihanku yang ku rasakan ya… apa arti keramaian orang-orang yang sama sekali tidak mengerti aku?????????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s