Sumber Daya Manusia dan Sumber Daya Alam Indonesia

Standard

Indonesia adalah salah satu Negara yang berlimpah sumber daya alamnya. Bahkan ratusan tahun lalu, Negara-negara Eropa mampu mencium adanya potensi kekayaan yang ada di Negara kita ini hingga mereka rela melewati negeri dan samudera untuk menggali kekayaan kita.  Kekayaan rempah-rempah yang melimpah dengan tanah dan iklim yang mendukung Indonesia sebagai penghasil hasil alam, mampu memberikan masukan keuangan yang luar biasa bagi Negara-negara yang menjajah kita dan sebaliknya rakyat kita terkungkung dalam kemiskinan bahkan kematian.

Hingga saat ini, berbagai hasil alam yang dibekalkan tanah negeri ini untuk rakyatnya tidak juga berkurang, namun selalu bertambah seiring penemuan-penemuan sumber daya alam baru khususnya hasil alam tanah. Emas, nikel, perak, semen, batubara, minyak, tersebar melimpah di dataran Negeri kita. Memang sejenak membuat kita berfikir, mengapa Negara-negara kering di Timur Tengah disana, justru memiliki kekayaan alam minyak yang luar biasa yang mampu menalangi rakyatnya hingga beratus-ratus tahun tanpa sumber daya alam lain seperti Indonesia. Jika ditilik lebih dekat, Indonesia bukan hanya memilki minyak saja, namun juga berbagai jenis bahan alam lainnya. Tetapi masalah terbesar adalah bahwa kekayaan sumber alam ini ternyata tak dapat meningkatkan taraf hidup rakyatnya bahkan masih jauh dari sentuhan rakyat di daerah lokal bahan tambang alam tersebut.

Tambang emas, nikel, batubara, tidak sepenuhnya menyentuh kepentingan rakyat kecil yang berlokasi disekitar sumber alam tersebut. Sebut saja di Sorowako, Sulawesi Selatan, pegunungan di sekitar pemukiman penduduk terkeruk oleh aktifitas tambang. Rakyat menuntut adanya kebijakan pemerintah terkait kepentingan pertanian warga setempat yang terganggu akibat konsentrasi penggalian nikel disekitar pemukiman, namun setiap tahunnya hanya terkemas dalam demonstrasi kecil yang berlalu dengan sendirinya.

Ada satu persamaan yang signifikan dari semua perusahaan besar pertambangan ini.  Semua dikelola oleh perusahaan asing yang posisinya sebagai kontraktor ataupun investor. Kasarnya, sumber daya alam kita digali oleh orang asing dan pundi-pundi amal dari bangsa kita disalurkan kepada mereka. Rakyat kita sendiri hanya bisa mendengar dan melihat tanpa menyadari bahwa yang terjadi sebenarnya adalah sebuah trik pembodohan. Masalah utama yang manjadi titik berat dari pembangunan dan pengolahan alam adalah sumber daya alam manusianya, baik dari nyali pencetus maupun dari pihak pemerintah. Begitu banyak orang-orang Indonesia dari perguruan tinggi lulusan insinyur dan sejenisnya yang memiliki tingkat intelejensi yang tinggi namun mereka hanya menjadi bagian dari pekerja orang asing. Ide untuk menjadi raja di negeri sendiri entah terbentur karena faktor apa; keberanian yang kurang, pemerintah yang egois atau karena memang pemikiran kaum intelektual kita yang belum sampai kepada titik berfikir orang asing?

Satu sisi, patut memang kita bersyukur dengan keberadaan perusahaan asing yang masuk ke dunia perekonomian Negara kita. Lapangan kerja menjadi lebih terbuka dengan penghasilan yang dijadikan target pekerjaan oleh para pencari kerja. Ekonomi Indonesia juga lebih terangkat sekian persen dengan tidak hanya mengandalkan sumber daya alam lainnya. Namun sebenarnya jika semua bisa dimanfaatkan sekian persen lebih besar untuk kepentingan rakyat, tentu saja hasil yang kita peroleh akan lebih dari yang sekarang ini kita dapatkan. Satu liputan di salah satu media elektronik menunjukkan bahwa ada yang salah pada prosedur pemanfaatan sumber daya alam kita. Keuntungan yang besar memang dirasakan oleh para pekerja di perusahaan asing tersebut, namun sudah menjadi rahasia umum jika keuntungan yang jauh lebih besar dari hasil alam kita itu justru untuk memperkaya perusahaan asing untuk membangun Negara mereka. Tertinggallah kita dalam kebodohan membiarkan mereka menjadi parasit pada kekayaan kita. Orang Indonesia bukannya bodoh, namun terlihat lebih pasif dan takut mencoba sesuatu, dan ketika ada yang berani mengajukan diri ke depan, ia justru akan dibenturkan pada masalah persetujuan pemerintah Indonesia sendiri. Dikatakan oleh pihak pemerintah alasan pemberian hak kepada investor tersebut, fee yang besar menjadi priorotas untuk pemasukan Negara. Sungguh pernyataan yang egois. Pemerintah tidak mempercayai sumber daya manusianya, bagaimana negara ini bisa maju jika tidak memanfaatkan orang-orangnya sendiri?  Pemerintah tampaknya lebih concern pada pemasukan Negara. Padahal, jika pihak terkait memberi kesempatan kepada sumber daya manusia yang berkualitas, kekayaan kita akan lebih bisa dinikmati oleh rakyat kita sendiri. Focus pembangunan akan lebih terarah pada pembangunan negeri dan kualitas rakyat lebih tinggi daripada sekedar menikmati fee sekian persen namun proses pengembangan berjalan timpang.

Seharusnya pemerintah bisa memberikan kepercayaan terhadap orang-orangnya sendiri, perlahan tapi pasti, pembangunan akan menunjukkan hasil yang positif jika sumber daya alam ini dikelola oleh sumber daya alam lokal yang berkualitas yang tentunya berpotensi di bidangnya. Hanya kurang nyali saja sehingga pemerintah lebih terfokus pada kepercayaan mereka terhadap kualitas orang asing. Manusia itu adalah makhluk yang belajar dan manusia Indonesia juga demikian. Kualitas para investor bukan hal yang mustahil untuk dibandingkan dengan sumber daya manusia lokal. Pemerintah pun bukan tidak mengetahui tentang realitas yang ada, namun mereka hanya menadahkan tangan ke atas tanpa perlu repot memikirkan bagaimana peningkatan kualitas manusia Indonesia itu sendiri.

Advertisements

Sudah Benarkah Ibadah Kita? By Amru Khalid

Standard

* Seorang Ulama pernah mengatakan, ‘Shalat adalah cahaya yang berkilauan dari seorang mukmin, memancar di wajahnya dan menyebar ke seluruh anggota tubuhnya’

* Suatu ketika Amru Khalid shalat berjamaah disatu masjid. Saat takbiratul ihram pertama, ia mendengar pemuda disebelahnya terisak. setelah Shalat, ia beranikan diri bertanya kepada pemuda tersebut mengapa ia menangis padahal Shalat baru akan dimulai. Pertanyaan ini dijawab ‘saat aku melafalkan ‘Allaahu Akbar’, seketika itu pula aku merasa takut jika aku berbohong kepada Allah, aku mengatakan dengan lidahku bahwa Dialah yang Maha Besar, tapi dalam hatiku ternyata tidak demikian’.

*Jika seseorang shalat dan tidak menyempurnakan Ruku’ dan Sujud di dalamnya, maka shalatnya itu akan dilipat-lipat seperti pakaian yg sudah usang lagi buruk, lalu dilemparkan kepada wajah orang tersebut dan shalatnya berkata ‘semoga Allah melenyapkan pahala shalatmu sebagaimana engkau telah melenyapkan aku (HR Abu Daud dan Nasa’)

* Seorang Hamba tidak akan mendapatkan apa-apa dalam shalatnya kecuali apa yang ia mengerti (HR Tirmidzi)

* Hasan Ibn Ali menurut riwayat selalu menggigil dan berubah raut wajahnya setiap kali akan melaksanakan shalat. ketika ditanya tentang sebabnya, Ia pun berkata ‘ apakah kalian mengerti, siapakah yang akan aku hadapi sekarang ini?’ (can we???)

* Ketika sujud, seorang hamba dan Tuhannya sangat dekat’

* Jagalah lidahmu selamanya agar tetap basah oleh dzikir kepada Allah (HR Tirmidzi & Ahmad

Dou Mbojo (Suku Bima) dan Makassar

Standard

1. Sejarah singkat Persaudaraan Bima-Gowa             

       Anda mungkin sudah tidak asing dengan salah satu suku di Nusa Tenggara Barat ini – Bima. Kota yang potensi utamanya masih berkisar pada pertanian ini secara historis mempunyai hubungan yang erat dengan kerajaan Gowa-Tallo. Pengenalan agama Islam awalnya dari pedagang Jawa dan Gujarat. Namun pengaruhnya tidak dalam cakupan yang luas hingga pada masa mulai kuatnya ekspedisi Belanda, kerajaan Gowa-Tallo memutuskan mengirimkan pasukan untuk  mematahkan serangan mereka melalui  perairan Bima dan Lombok. Intervensi ini merupakan tapak baru bagi perkembangan silsilah suku Bima.

Seiring dengan pengaruh agama Islam yang lebih intensif dari ulama kerajaan Gowa-Tallo, maka gelar raja diganti menjadi sultan. Sedangkan mengenai penduduk asli dari daratan Bima adalah suku Donggo. Suku ini awalnya menganut kepercayaan animisme, lalu perlahan tertekan oleh agama Islam. Suku lain yang merupakan generasi baru dari suku Bima adalah suku pendatang dari Gowa-Tallo yang membawa amanat persaudaraan melalui perjuang melawan Belanda pada abad ke-14 itulah yang lalu menetap di Bima dan disebut Dou Mbojo (orang Bima). Suku inilah yang sekarang ini lebih menyebut dirinya sebagai suku asli Bima.

Tidak hanya suku Gowa–tallo yang menginjakkan kaki sejarahnya di Kerajaan Bima, situs kuburan dengan julukan Duta Bima di Kuburan Raja Gowa-Tallo membuktikan bahwa pengaruh pemuka agama Islam Bima juga turut berperan serta dalam perjuangan Kerajaan Gowa-Tallo di masa lalu. 

 

2. Latar Belakang Orang Bima Merantau ke Makassar dan kehidupannya

Melihat latar belakang sejarah antara Suku Bima dan Makassar, wajar jika hingga saat ini hubungan historikal yang terjalin sejak lama itu masih terlihat. Terbukti, orang-orang Bima sudah tersebar menetap di seluruh wilayah Sulawesi Selatan termasuk kabupaten Takalar, Gowa, Kota Makassar dan lainnya. Mereka merantau ke Makassar baik itu untuk melanjutkan pendidikan, mencari kerja, atau malah menikah dengan suku asli Makassar.

Kota Makassar sebagai salah satu spot destinasi bagi orang-orang yang menginginkan hidup yang cukup tenang, namun kota yang juga tidak bisa disebut udik lagi, apalagi melihat perkembangan dari berbagai sektor dimana pemerintah kota Makassar telah menargetkan kesetaraan kota ini dengan kota metropolis di dunia. Kiranya inilah yang menjadi alasan mengapa calon-calon intelek di luar sana mempertimbangkan untuk menjadi salah satu jebolan universitas di Makassar. Selain suku Jawa, suku yang juga telah banyak mendiami Makassar dan sekitarnya adalah suku Bima. Orang-orang keturunan Bima memang dikenal sebagai pribadi yang memiliki etos kerja yang tinggi setelah suku Jawa.

Hampir di setiap kampus bisa ditemui mahasiswa yang sengaja datang dari Bima untuk mendapatkan pendidikan; negeri, swasta, ataupun kesehatan. Seperti persatuan mahasiswa dari kabupaten lain di Sulawesi Selatan, mahasiswa Bima juga biasanya memiliki cara yang hampir sama sebagai wujud persaudaraan mereka, seperti rumah kos yang dikhususkan bagi mahasiswa asal Bima.

Cara lain yang mereka lakukan untuk mempersatukan kesukuan mereka di tengah perantauan ini, adalah membentuk arisan ‘Dou Mbojo’. Penulis menemukan perkumpulan arisan ini ada di Takalar dan Makassar. Arisan ini rutin mereka adakan tiap bulannya, selain untuk mempererat persaudaraan (cukup klasik namun sangat dalam maknanya bagi para perantau), juga untuk saling mengenal satu sama lain yang pada kenyataannya tersebar di pelosok kota ataupun kabupaten di sekitar Makassar. Moment ini juga akan menjadi ajang berbagi cerita mengenai keluarga masing-masing, tentang lingkungan kerja istri atau suami, tentang sekolah atau pekerjaan anak-anak kebanggaan mereka dan lain sebagainya. Arisan ini dikemas dalam bentuk yang umum dimana selain tradisi mengocok nama, juga dengan sajian makanan khas Makassar; Baro’bo (bubur jagung), Kapurung, ikan bakar, Racca’ Mangga, dan lainnya.

Dengan komunitas yang cukup besar ini, maka tidak jarang hampir di setiap keramaian, akan anda temui orang-orang yang berbahasa Bima. Hal ini mungkin karena kehidupan di kampung halaman yang nota bene belum begitu menjanjikan jika dibandingkan dengan kota Makassar dari segi infrastruktur yang lebih lengkap.

Beragam cerita dan latar belakang menjadi motivasi perantau Bima untuk datang ke Makassar; tuntutan profesi yang menugaskan mereka di kota yang tengah gencar membangun ini. Arif, seorang tentara jebolan dari pendaftaran Catam Jakarta tahun 2000 yang kini berpangkat Pratu, berasal dari suku Bima asli dan kini bertugas pada kesatuan Armed Makassar, lalu menyunting gadis asal Bima.

Nadimin S. Kes, M. Kes., yang tinggal di perumahan IDI Daya adalah seorang dosen suku Bima dan mengajar di kampus IDI dulunya menyelesaikan studinya di Makassar, kini menetap di Makassar dengan istri bersuku Bugis-Jawa.

Bimbim, seorang jebolan mahasiswa UNM merupakan pemuda kelahiran Dompu – kabupaten tak jauh dari kota Bima – kini menangani laboratorium jurusan Teknik UNM. Awalnya Bimbim menjatuhkan pilihannya di kota Makassar sebagai kota untuk mengambil gelar Sarjana Tekniknya ini karena pengalaman kakaknya yang sudah lebih dulu menyandang gelar Sarjana Agama di UIN.

Seperti yang banyak terjadi pada suku-suku yang lainnya, walaupun sekian persen mereka menikah dengan suku Bugis atau Makassar, tetapi secara prinsip, mereka akan menikah dengan suku yang sama lalu menetap di Makassar dengan alasan sumber kehidupan mereka ada di sini. Anak-anak yang kemudian lahir, tentunya akan lebih familiar dengan tata cara, budaya, logat, ataupun pola hidup orang Makassar.

Walaupun sebagian besar orang-orang Bima menuntut ilmu di Makassar lalu melanjutkannya juga dengan bekerja di Makassar, tak jarang juga dari mereka akan kembali ke kampung halaman untuk mengabdi di sana. Pada umumnya mereka yang berprofesi sebagai guru, perawat, bidan, pelayanan kesehatan lain, sedangkan untuk profesi pengacara, seperti Arsyad, yang tinggal di daerah Sudiang beristrikan suku Bugis, lebih memilih membentuk sebuah wadah konsultan di Makassar. Sekiranya di Bima mungkin masih belum populer dengan pemanfaatan jasa pengacara.

 

 

3. Hubungan Orang Bima dengan kampung Halaman

 

Berada di kampung orang lain walaupun sampai berpuluh tahun, bukan berarti melupakan sepenuhnya keberadaaan keluarga di kampung asal. Transportasi yang paling lumrah dan murah sebagai jalur utama orang Bima ke Makassar ataupun sebaliknya adalah kapal laut; Kelimutu, Tilongkabila, Labobar. Maka jangan heran kalau Anda sedang berada di Gedung Pelni Jl. Jenderal Sudriman 38, Anda akan menemukan pemuda pemudi bercakap dalam bahasa Bima.

Musim pulang kampung masyarakat Bima tidaklah jauh berbeda dengan masa-masa mudik suku lain. Menjelang Idul Fitri adalah mudik yang paling dinanti-nantikan. Namun itu hanya berlaku bagi mereka yang berprofesi sebagai mahasiswa. Kalaupun ternyata biaya ditangan tidak cukup untuk membeli tiket, mahasiswa ini biasanya akan ikut ke kampung halaman teman dekatnya sesama mahasiswa atau jika memiliki keluarga di Makassar, mereka akan merayakan hari besar itu bersama mereka. Orang Bima yang sudah berkeluarga dan memiliki anak memiliki jedah waktu yang lebih panjang untuk melakukan mudik. Dari segi pengeluaran budget tentunya akan lebih besar jika harus melakukan tradisi mudik tiap tahunnya.

Salah satu resiko yang cukup dramatis yang mesti dihadapkan kepada para perantau ini adalah, jika sanak keluarga, entah itu ayah, ibu, nenek, kakek, atau saudara tertimpa musibah atau bahkan meninggal, para perantau ini tentu tidak akan langsung bisa berada di tempat itu untuk sekedar berada di samping sanak keluarga yang tertimpa musibah.

Saat Idul Fitri harus dirayakan bertahun-tahun di Makassar, permohonan maaf hanya bisa dikirimkan lewat sms atau telepon, lalu menyadari betapa jauhnya sang anak telah meninggalkan orang tua, membuat cucu jauh dan asing pada kakek dan neneknya. Para sepupu bahkan akan sulit untuk saling mengakrabkan diri saat akhirnya dipertemukan.

 

4. Budaya Masyarakat Bima di Makassar

 

 

Kebudayaan suku Bima dengan Makassar sebenarnya tidaklah jauh berbeda. Lihat saja gaun pengantin adat yang hampir mirip dengan baju bodo suku Makassar. Perhelatan pesta pernikahanlah yang akan memperlihatkan perbedaan yang cukup menonjol. Apalagi mengingat budaya Makassar dengan nilai Panaik yang cukup tinggi. Suku Bima terbilang lebih sederhana dalam melaksanakan prosesi pernikahan.

Dari segi bahasapun, jika ciri khas dari bahasa Makassar lebih dominasi dengan akhiran huruf mati, maka bahasa Bima lebih dengan akhiran huruf hidup. Sampel yang bisa kita ambil seperti kata ‘tantongang’ dalam bahasa Makassar yang artinya jendela, maka dalam bahasa Bima ‘tantonga’. ‘jangang’ dalam bahasa Makassar, maka bahasa Bima disebut ‘janga’. Salah satu kata yang paling sering mereka ucapkan bagi saudara yaitu bermakna salam, doa, atau menunjukkan rasa empati adalah ‘kalembo ade’. Kata yang tidak memiliki arti yang spesifik ini adalah untuk menunjukkan penghargaan satu sama lainnya.

Untuk silsilah keluarga, suku Bima memanggil saudara ayah atau ibu yang lebih tua dengan Ua’. Sedangkan saudara ibu atau ayah yang lebih muda, mereka sebut bibi dan om.

Demikianlah sekilas tentang kehidupan masyarakat Bima (Dou Mbojo) di kota Anging Mammiri ini. 

 

 

 

Budaya Makassar menyembuhkan Kesurupan

Standard

 

Sekilas, kasus kesurupan terkadang masih dipandang sebelah mata sebagai kasus yang tidak masuk akal. Meskipun keberadaan sesuatu yang ghaib sejak zaman prasejarah sebenarnya telah mengakar pada hampir di setiap kebudayaan. Nenek moyang kita sedari dahulu telah mengadakan prosesi tertentu untuk menghormati arwah leluhur atau roh ghaib yang diyakini hidup di luar batas indra manusia.

 

Keberadaan roh halus adalah permasalahan abstrak yang hidup di tengah masyarakat kita. Dunia science pun berusaha mengungkap eksistensinya. Sebuah penelitian dari Amerika yang menjadi salah satu episode dalam Discovery Channel, menyusuri bagaimana para ahli mencari tempat yang paling keramat di beberapa negara. Salah satunya merupakan kantor pengadilan sekaligus tempat eksekusi gantung terdakwa. keberadaan sesuatu yang halus tersebut berhasil mengaktifkan grafik pada alat yang dilengkapi dengan gelombang elektromagnetik.

Berangkat dari realitas ini, keberadaan roh masih bisa dirasakan melalui fenomena masyarakat Makassar. Kesurupan, guna-guna, sesajen, dan lainnya masih sering kita temui di masyarakat kota maupun desa. Beberapa kejadian kesurupan massal juga sempat menjadi salah satu berita utama dari media cetak maupun elektronik. Kesurupan tersebut banyak terjadi di sekolah-sekolah dan menyebabkan siswi-siswi pingsan lalu menangis, berteriak dan mengamuk. Pertanyaan pernah muncul, mengapa yang terkena kesurupan hanya mereka perempuan yang beragama Islam? Tetapi kenyataan yang terjadi bahwa kesurupan juga menimpa anak-anak SMA di Kupang yang mayoritas beragam Kristen.

Konon, kesurupan terjadi karena tubuh dirasuki makhluk halus yang nota bene banyak di kaitkan dengan penjaga suatu tempat atau objek. Menurut ‘orang pintar’, kesurupan bisa terjadi karena tempat bersemayamnya makhlus halus ini terganggu akibat aktivitas manusia. Salah satu kasus di antara sekian peristiwa kesurupan yang pernah terjadi di Makassar, dari tempointeraktif, 40 siswa SMA Negeri 16 mengalami kesurupan dan mengharuskan pengobatan rukiyah terhadap para korban.  Rukiyah dikenal sebagai cara pengobatan untuk melepaskan pengaruh jin korban kesurupan. Bahkan, kesurupan massal di sekolah ini bisa terjadi 6 kali dalam sebulan. Berita yang merebak ke lingkungan sekolah bahwa langganan kesurupan  di sekolah ini karena gedung tua peninggalan Belanda dirobohkan lalu dilanjutkan dengan pembangunan gedung laboratorium baru mengakibatkan mengamuknya jin penghuni lokasi tersebut. Siswa yang kesurupan tiba-tiba fasih berbahasa Belanda. Wallahu alam. Ini hanya segelintir rentetan peristiwa kesurupan yang terjadi.

Kejadian yang lain yang diyakini bahwa kesurupan tersebut adalah akibat guna-guna yang mengirimkan arwah jahat kepada seseorang. Ciri-ciri kesurupan ini hampir sama dengan penggambaran pada umumnya. Tetapi penanggulangannya membutuhkan semacam penolak bala.

Untuk penyembuhan kesurupan, masyarakat Makassar pada umumnya akan membacakan ayat-ayat suci Al Quran atau meniupkannya pada segelas air putih. Orang yang kesurupan akan bereaksi dengan teriakan dan amukan yang  dalam keadaan normal, orang yang kerasukan itu tidak akan mampu mengeluarkan tenaga sebesar itu. Ayat-ayat suci tersebut mengakibatkan rasa panas dan sakit pada roh tersebut. Untuk kasus kesurupan ringan semacam ini, biasanya hanya cukup dengan membaca ayat-ayat Al Quran.

Beberapa kasus yang lebih berat seperti yang dikenal kalangan masyarakat Makassar sebagai guna-guna, akan membutuhkan semacam obat penangkal atau penetral. Masing-masing orang berilmu akan memiliki cara yang berbeda. Konon, ada yang mengambil secara ghaib serupa minyak dari nenek moyangnya.  Memang banyak hal aneh yang terjadi di luar batas nalar manusia. Seperti proses pengiriman guna-guna itu sendiri. Saksi yang melihat adanya serupa benang tipis bercahaya dari arah langit menuju tepat ke rumah seorang korban bernama Sinta. Fenomena ini ditanggapi secara spontan oleh warga, ‘apa itu masuk dirumahnya Sinta?’. Peristiwa aneh ini disaksikan oleh banyak orang di sekitarnya. Kejadian tersebut terjadi pada hari kamis malam (03 April 2008) di Abdullah Dg. Sirua lorong VII. Keesokan malam, korban merasakan kondisi badan yang begitu melelahkan dan akhirnya pingsan. Diberitakan dari saksi – saksi bahwa korban  berkelakuan aneh seperti sapi. Korban mengeluarkan lidahnya dan menirukan gerakan sapi.

Dari keterangan kerabatnya, korban dikirimkan guna-guna dengan kurban seekor sapi. Mahasiswa alumni Sastra Inggris UNM yang tengah melanjutkan pengambilan Akta IV ini lalu diberikan minyak leluhur yang diambil secara ghaib oleh kerabatnya dan menanam penolak bala di depan pintu. Pengobatan tetap dengan membacakan ayat-ayat Al Quran dan air putih yang secara rutin diminum oleh pasien.

                                   

Mutiara Hikmah Nabi Sulaiman (Puji-pujian Bagi Istri Yang Bijaksana)

Standard

Istri yang bijaksana, siapakah dapat menemukannya?

Nilainya kebih tinggi dari pada permata

Hati suaminya mempercayainya, dan suaminya tak akan kekurangan keuntungan

Ia berbuat baik kepada suaminya, bukan berbuat jahat, SEUMUR HIDUPNYA!

Ia mencari bulu domba dan rami, lalu dengan senang hati bekerja dengan tangannya.

Ia seperti kapal saudagar, dibawanya makanan dari jauh

Ia bangun sebelum fajar, disiapkannya makanan untuk seisi rumahnya

dan porsi bagi setiap pelayan perempuannya

Setelah menimbang-nimbang, Ia membeli sebuah ladang, dan dari hasil tangnnya, ditanaminya kebun anggur. Ia mengikat pinggangnya dengan kekuatan, dan menguatkan lengannya. Ia tahu bahwa usahanya menguntungkan.

Pada malam hari, pelitanya tak padam

Tangannya diletakkannya pada pemintal, dan jari-jarinya memegang gelondong benang.

Ia membuka tangannya bagi yang miskin, dan mengulurkan lengannya bagi yang lemah.

Ia tidak mengkhawatirkan keluarganya ketika salju tiba, karena seisi rumahnya berpakaian rangkap.

Suaminya dikenal orang di pintu gerbang, ketika Ia duduk di antara para tua-tua negeri.

Ia membuat pakaian dari lenan lalu menjualnya,

dan Ia menyediakan ikat pinggang bagi para pedagang

Kekuatan dan kewibawaan adalah pakaiannya.

Ia tertawa tentang hari-hari yang akan datang

Ia membuka mulutnya dengan hikmah, dan ajaran kasih ada di lidahnya..

Anak-anaknya bangkit dan mendoakannya, suaminya pun memujinya

“Banyak perempuan yang perbuatannya sangat baik, tetapi engkau melebihi mereka semua”.

Keelokan menipu dan kecantikan sia-sia, tetapi perempuan yang bertakwa kepada Allah akan dipuji-puji…

Biarlah pekerjaannya memuji dia di pintu-pintu gerbang!!! 

Raja Penyulam

Standard

senja sejenak bergumam dengan bintang

berjanji datang dengan wujud malam

di halaman depan rumahku

ada poh0n mangga tegak menopang nyawa

daun-daun, serangga, dan burung

senja berulang kali menjadi saksi

atas Raja Penyulam di pohon mangga itu

Raja Penyulam si BUrung Jantan

sulaman sarang yang sedang di tanganku

telah terbuang setelah sang anak terbang

bersama burung betinanya

keluarga Raja Penyulam

Sarang inda

kulihat terhias lumut kering hijau

sarang telur laba-laba seputih kapas

seperti bauran langit dan awan senja ini

Belum lagi selembar daun mangga kering

terselip di antara serat-serat alang-alangnya

seperti mahkota pemburu kijang

daun itu berdiri tegak menyalip di antaranya

 Alangkah mimpi burung betina terpenuhi

Sarang indah, sang anak, serta Raja Penyulam

Si burung jantan