Sumber Daya Manusia dan Sumber Daya Alam Indonesia

Standard

Indonesia adalah salah satu Negara yang berlimpah sumber daya alamnya. Bahkan ratusan tahun lalu, Negara-negara Eropa mampu mencium adanya potensi kekayaan yang ada di Negara kita ini hingga mereka rela melewati negeri dan samudera untuk menggali kekayaan kita.  Kekayaan rempah-rempah yang melimpah dengan tanah dan iklim yang mendukung Indonesia sebagai penghasil hasil alam, mampu memberikan masukan keuangan yang luar biasa bagi Negara-negara yang menjajah kita dan sebaliknya rakyat kita terkungkung dalam kemiskinan bahkan kematian.

Hingga saat ini, berbagai hasil alam yang dibekalkan tanah negeri ini untuk rakyatnya tidak juga berkurang, namun selalu bertambah seiring penemuan-penemuan sumber daya alam baru khususnya hasil alam tanah. Emas, nikel, perak, semen, batubara, minyak, tersebar melimpah di dataran Negeri kita. Memang sejenak membuat kita berfikir, mengapa Negara-negara kering di Timur Tengah disana, justru memiliki kekayaan alam minyak yang luar biasa yang mampu menalangi rakyatnya hingga beratus-ratus tahun tanpa sumber daya alam lain seperti Indonesia. Jika ditilik lebih dekat, Indonesia bukan hanya memilki minyak saja, namun juga berbagai jenis bahan alam lainnya. Tetapi masalah terbesar adalah bahwa kekayaan sumber alam ini ternyata tak dapat meningkatkan taraf hidup rakyatnya bahkan masih jauh dari sentuhan rakyat di daerah lokal bahan tambang alam tersebut.

Tambang emas, nikel, batubara, tidak sepenuhnya menyentuh kepentingan rakyat kecil yang berlokasi disekitar sumber alam tersebut. Sebut saja di Sorowako, Sulawesi Selatan, pegunungan di sekitar pemukiman penduduk terkeruk oleh aktifitas tambang. Rakyat menuntut adanya kebijakan pemerintah terkait kepentingan pertanian warga setempat yang terganggu akibat konsentrasi penggalian nikel disekitar pemukiman, namun setiap tahunnya hanya terkemas dalam demonstrasi kecil yang berlalu dengan sendirinya.

Ada satu persamaan yang signifikan dari semua perusahaan besar pertambangan ini.  Semua dikelola oleh perusahaan asing yang posisinya sebagai kontraktor ataupun investor. Kasarnya, sumber daya alam kita digali oleh orang asing dan pundi-pundi amal dari bangsa kita disalurkan kepada mereka. Rakyat kita sendiri hanya bisa mendengar dan melihat tanpa menyadari bahwa yang terjadi sebenarnya adalah sebuah trik pembodohan. Masalah utama yang manjadi titik berat dari pembangunan dan pengolahan alam adalah sumber daya alam manusianya, baik dari nyali pencetus maupun dari pihak pemerintah. Begitu banyak orang-orang Indonesia dari perguruan tinggi lulusan insinyur dan sejenisnya yang memiliki tingkat intelejensi yang tinggi namun mereka hanya menjadi bagian dari pekerja orang asing. Ide untuk menjadi raja di negeri sendiri entah terbentur karena faktor apa; keberanian yang kurang, pemerintah yang egois atau karena memang pemikiran kaum intelektual kita yang belum sampai kepada titik berfikir orang asing?

Satu sisi, patut memang kita bersyukur dengan keberadaan perusahaan asing yang masuk ke dunia perekonomian Negara kita. Lapangan kerja menjadi lebih terbuka dengan penghasilan yang dijadikan target pekerjaan oleh para pencari kerja. Ekonomi Indonesia juga lebih terangkat sekian persen dengan tidak hanya mengandalkan sumber daya alam lainnya. Namun sebenarnya jika semua bisa dimanfaatkan sekian persen lebih besar untuk kepentingan rakyat, tentu saja hasil yang kita peroleh akan lebih dari yang sekarang ini kita dapatkan. Satu liputan di salah satu media elektronik menunjukkan bahwa ada yang salah pada prosedur pemanfaatan sumber daya alam kita. Keuntungan yang besar memang dirasakan oleh para pekerja di perusahaan asing tersebut, namun sudah menjadi rahasia umum jika keuntungan yang jauh lebih besar dari hasil alam kita itu justru untuk memperkaya perusahaan asing untuk membangun Negara mereka. Tertinggallah kita dalam kebodohan membiarkan mereka menjadi parasit pada kekayaan kita. Orang Indonesia bukannya bodoh, namun terlihat lebih pasif dan takut mencoba sesuatu, dan ketika ada yang berani mengajukan diri ke depan, ia justru akan dibenturkan pada masalah persetujuan pemerintah Indonesia sendiri. Dikatakan oleh pihak pemerintah alasan pemberian hak kepada investor tersebut, fee yang besar menjadi priorotas untuk pemasukan Negara. Sungguh pernyataan yang egois. Pemerintah tidak mempercayai sumber daya manusianya, bagaimana negara ini bisa maju jika tidak memanfaatkan orang-orangnya sendiri?  Pemerintah tampaknya lebih concern pada pemasukan Negara. Padahal, jika pihak terkait memberi kesempatan kepada sumber daya manusia yang berkualitas, kekayaan kita akan lebih bisa dinikmati oleh rakyat kita sendiri. Focus pembangunan akan lebih terarah pada pembangunan negeri dan kualitas rakyat lebih tinggi daripada sekedar menikmati fee sekian persen namun proses pengembangan berjalan timpang.

Seharusnya pemerintah bisa memberikan kepercayaan terhadap orang-orangnya sendiri, perlahan tapi pasti, pembangunan akan menunjukkan hasil yang positif jika sumber daya alam ini dikelola oleh sumber daya alam lokal yang berkualitas yang tentunya berpotensi di bidangnya. Hanya kurang nyali saja sehingga pemerintah lebih terfokus pada kepercayaan mereka terhadap kualitas orang asing. Manusia itu adalah makhluk yang belajar dan manusia Indonesia juga demikian. Kualitas para investor bukan hal yang mustahil untuk dibandingkan dengan sumber daya manusia lokal. Pemerintah pun bukan tidak mengetahui tentang realitas yang ada, namun mereka hanya menadahkan tangan ke atas tanpa perlu repot memikirkan bagaimana peningkatan kualitas manusia Indonesia itu sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s